DINAMIKA NILAI JAWA ISLAM DALAM MENGHADAPI TANTANGAN MODERNITAS
Oleh : Farida Putri Ramadhani
1. INTERELASI NILAI ISLAM DAN JAWA
Interelasi adalah suatu hubungan antara satu hal dengan hal lainnya.
Jadi, interelasi nilai Islam dan Jawa merupakan hubungan antara nilai-nilai yang
ada di ajaran agama Islam yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadist dengan
nilai-nilai ajaran Jawa demi mencapai kemaslahatan. Akulturasi budaya Jawa
dan ajaran Islam di Indonesia berkembang dengan kecepatan yang luar biasa,
karena ajaran yang ada didalam agama Islam tidak menentang atau dengan kata
lain sejalan dengan budaya masyarakat Jawa yang telah dijaga turun-temurun
dari nenek moyang orang Jawa. Kecepatan akulturasi ini tidak bisa dilepaskan.
dari sejarah yang ada, tentang sejarah masuk dan menyebarnya ajaran agama
Islam di tanah Jawa yang begitu mudah karena Islam datang dengan cara yang
damai dan tidak memaksakan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa, tetapi tetap
dengan cara pendekatan yang tidak menimbulkan kebencian. Berbagai
pendekatan yang dicoba para mubaligh dalam penyebaran agama Islam, cara
yang dilakukan dengan tujuang menanamkan nilai-nilai Islam kedalam
kebudayaan Jawa. Interelasi nilai Islam dan Jawa telah menyatu di kehidupan
masyarakat Jawa diberbagai aspek kehidupan, yaitu :
1. Dalam aspek ekonomi
Dalam masyarakat Jawa, prinsip ekonomi dapat dijumpai dalam
istilah-istilah/konsep seperti: cucuk, pakoleh, ngirit, guthuk, lumayan
dan lain-lain. Sementara itu istilah Jawa yang memiliki arti berlawanan
dari istilah diatas adalah: boros tanpa penthung, awur-awuran, ya ben,
dipangan bethara kala, dan lain-lain. 1
Jika memahami dengan
mendalam, khususnya dengan sejarah masyarakat Jawa, bahwa
masyarakat Jawa telah mengenal prinsip ekonomi diatas sebelum Islam
masuk. Debgan masuknya Islam, membuat perekonomian masyarakat
Jawa semakin tertata sesuai dengan ajaran agama Islam.
2. Dalam aspek ritual
Kepercayaan dan keimanan merupakan permasalahan
fundamental yang dihadapi semua agama. Masyarakat Jawa yang dari
dulu mempercayai kepercayaan animisme dan dinamisme harus
didekati dengan cara yang serupa, dan baiknya apa yang dibawa Islam
sejalan dengan kepercayaan masyarakat Jawa, pendekatan yang
dilakukan Islam dengan cara mengenalkan rukun Islam dan rukun iman
kepada masyarakat Jawa yang tentu saja mudah diterima. Berbagai
upacara adat asli Jawa yang telah menyatu dengan ajaran agama Islam,
contohnya rangkaian upacara yang ada di dalam upacara kematian,
seperti mitung dino, matang puluh, nyatus, nyewu, mendak.
3. Dalam aspek sastra
Secara umum, menurut Atmazaki bahwa jenis-jenis karya sastra
meliputi : (1) karya sastra yang berbentuk prosa, (2) karya sastra yang
berbentuk puisi, (3) karya sastra yang berbentuk drama. Adapun fungsi
sastra adalah mengungkapkan adanya nilai keindahan, nilai
kemanfaatan, dan mengandung nilai moralitas (pesan moral).
2 Pada
periode ketiga dari perkembangan sastra Jawa yaitu periode tembang
cilik telah melahirkan tembang macapat. Tembang Macapat telah
berhasil memadukan ajaran agama Islam kedalam kesasustraan Jawa.
Ajaran yang ada didalam tembang Macapat memiliki nilai-nilai dari
manusia di kandungan seorang ibu sampai manusia
dikuburkan/dimakamkan sesuai ajaran islam.
Masih banyak lagi akulturasi antara Jawa dan Islam diberbagai
bidang kehidupan masyarakat Jawa yang begitu kompleks.
Interelasi nilai-nilai Islam dan Jawa yang telah mengubah kehidupan
masyarakat Jawa sampai ke setiap hal kehidupan masyarakat Jawa tanpa
harus kehilangan jati dirinya sebagai orang Jawa. Islam datang sebagai
agama yang rahmatan lilalamin.
2. KEBUDAYAAN JAWA DAN GLOBALISASI.
Kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi)
manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat atau keseluruhan
pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami
lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi tingkah lakunya.3 Bangsa
yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jati dirinya. Indonesia adalah
bangsa yang menghormati budaya luhur nenek moyang. Orang Jawa adalah
orang yang selalu menghidupkan budaya nenek moyangnya, seperti pepatah
Jawa “ojo sampe lali nguri-nguri budayane dewe “. Apalah artinya kekayaan
budaya Jawa yang penuh keindahan dan keharmonisan ini akan berhenti di suatu generasi, dan generasi mudalah yang harus ikut andil untuk terus
melestarikan budaya Jawa.
Maraknya budaya barat yang masuk di tengah cenderungnya para
pemuda yang semakin tidak peduli dengan budayanya sendiri, yang selalu
menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang penuh makna akan filosofi dengan
budaya modern yang mengaburkan minat pemuda dengan budayanya sendiri,
pemuda yang mengesampingkan nilai luhur dalam bermasyarakat. Kurangnya
pemahaman dan penanaman cinta kepada budaya sendiri yang seharusnya
menjadi perilaku sehari-hari menyebabkan hilangnya keterlibatan masyarakat
khususnya pemuda untuk menghidupkan budaya Jawa.
Kebudayaan juga merupakan unsur pengorganisasian antara individu
dan membentuknya satu kelompok dalam rangka mempertahankan eksistensi
manusia di dalam lingkungan hidupnya. Kebudayaan memiliki ciri, yaitu
penyesuaian manusia kepada lingkungan hidupnya dalam rangka
mempertahankan hidupnya sesuai dengan kondisi yang menurut pengalaman
atau tradisinya merupakan yang terbaik.4 Pertemuan antara kebudayaan yang
satu dengan kebudayaan lainnya akan membentuk sebuah perpaduan antara dua
kebudayaan yang akan membentuk pemahaman baru dengan membawa nilai-
nilai unggul dari setiap kebudayaan.
Dialektika antara kebudayaan yang berbeda akan menimbulkan dampak
yang bisa berupa hal-hal positif bahkan bisa saja memberikan dampak negatif
bagi seseorang. Hal ini tergantung bagaimana orang yang menerima perpaduan
ini menyikapinya, maka diperlukannya kesiapan dan pengetahuan tentang
kebudayaan itu. Faktor yang menyebabkan terjadinya perpaduan nilai-nilai
antara budaya Jawa dengan ajaran Islam adalah budaya Jawa memiliki ciri yang
lentur dan terbuka sikap toleran para Walisongo dalam menyampaikan ajaran
Islam di tengah masyarakat Jawa yang telah memiliki keyakinan pra-islam yang
sinkretis itu.
Masuknya globalisasi yang tidak terbendung lagi, yang terus-menerus
merasuki berbagai sendi kehidupan masyarakat Jawa melalui berbagai macam media komunikasi, informasi, teknologi, sehingga penolakan terhadap budaya
asing hampir dikatakan tidak mungkin. Perkembangan yang mempengaruhi
dunia inilah yang mau tidak mau masyarakat Jawa dipaksa mengikutinya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa, perkembangan globalisasi berdampak
kepada kebudayaan Jawa yang telah mengakar kuat diantara masyarakat
dengan mengaburkan kecintaan para pemudanya dengan budaya Jawa sendiri.
Berbagai perubahan sosial yang dibawa era globalisasi lambat laun akan
mengubah cara pandang masyarakat Jawa diberbagai bidang kehidupan seperti
moral, etika, norma, dan cara pandang menuju hal baru. Adanya kecenderungan
globalisasi di bidang budaya yang semakin mengikis jatidiri orang Jawa dan
mengganti dengan nilai-nilai baru dari peradaban yang memegang arah
globalisasi hingga mengancam identitas kejawaan dan meruntuhkan
kepercayaan yang sudah lama ada. Untuk menghadapi globalisasi senjata paling
ampuh memang memperkokoh identitas dan reaksi timbal balik atas globalisasi.
Identitas berguna untuk melawan pengaruh buruk globalisasi.
Keterpurukan budaya Jawa diakibatkan oleh sikap masyarakat yang
menganggap remeh akan kebudayaan Jawa. Kurangnya minat dalam
melestarikan budaya Jawa sendiri dikarenakan budaya Jawa dianggap kuno dan
tentu saja tidak selaras dengan globalisasi yang terus-terusan gencar dalam
penyebarannya. Ditengah terpupuknya budaya Jawa dikalahkan masyarakat
sendiri, diperparah dengan masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan
jatidiri orang Jawa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keluhuran.
Dalam menghadapi tantangan globalisasi yang tidak ada henti-hentinya,
maka masyarakat perlu membudidayakan kembali ajaran Jawa dengan cara
lisan ataupun tulisan. Sebagai orang tua yang benar-benar mengenal tentang
budaya Jawa, tentu saja tugas mereka mewariskan pengetahuan tentang budaya
Jawa kepada para pemuda, cara yang paling ampuh memang mengajak pemuda
dalam sebuah obrolan khas orang tua dengan sedikit-sedikit memasukkan
budaya Jawa setidaknya untuk menggugah kesadaran pemuda dan menarik
minat akan budaya Jawa. Seorang akademisi tentu saja tulisan merupakan
bagian dari hidup mereka, cara ini bisa digunakan dengan menganalisa lalu
mencocokkan dengan globalisasi yang terjadi, sehingga hasil akhir akan ibukukan dalam sebuah tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya.
Filsafat Jawa juga menjadi tameng diri agar tidak terbawa arus
globalisasi yang menjauhkan orang jawa dari jatidirinya dan menghindari
kebobrokan moral. Orang jawa tidak boleh kehilangan kepribadiannya.
Kehidupan masyarakat Jawa dari dulu tidak pernah lepas dari falsafah yang
selalu dipegang teguh demi menghadapi masalah apapun. Diantara falsafah
yang ada, beberapanya yaitu :
1. ajining diri saka lathi, ajining seliro soko busana, artinya nilai diri
seseorang terletak pada gerakan lidahnya, nilai badaniah seseorang
terletak pada pakaiannya, harga diri seseorang terletak pada ucapannya.
2. aja dhumuko, aja gumun, aja kagetan, artinya jangan sombong, jangan
mudah terkagum-kagum, jangan mudah terkejut.
3. aja dhumeh, tepo seliro, ngerti kuwalat, artinya jangan merasa hebat,
tergantung rasa, tahu karma. Dimanapun kita berada, jangan merasa
hebat, berbuat semaunya.
4. sugih tanpa bandha, digdoyo tanpa aji, ngalurung tanpa bala, menang
tanpa ngasarake, artinya kaya tanpa harta, sakit tanpa azimat,
menyerang tanpa bala tentara, menang tanpa merendahkan.5
Bagi orang jawa, hidup adalah sebuah perjalanan yang suatu saat pasti
akan kembali. Sungkan paraning dumadi ungkapan yang berarti darimana mau
kemana. Ungkapan yang melambangkan orang Jawa harus tahu asal usul
dirinya, dan mau dibawa kemana hidupnya itu. Ini tidak lepas dari orang Jawa
yang begitu antusias dalam mempelajari tentang arti dari sebuah kehidupan
yang fana ini.
3. MODERNISASI BUDAYA JAWA
Kata modernisasi secara etimologi berasal dari kata modern, kata
modern dalam kamus umum bahasa Indonesia adalah yang berarti baru, terbaru
cara baru atau mutakhir, sikap berfikir dan bertindak sesuai dengan tuntunan zaman, dapat juga diartikan maju, baik kata modernisasi merupakan kata benda
dari bahasa latin” modernus”, modo berarti baru saja atau model baru, dalam
bahas prancis disebut modern.
Modernisasi ialah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga
masyarakat untuk bisa hidup masa kini. Modernisasi identik dengan kehidupan
masyarakat yang penuh dengan keserbaadaan, keluar dari konsep manusia
primitif menuju peradaban manusia modern dan maju dengan segala jenis
kemudahannya. Jadi memang harus dipahami bahwa zaman modern harus
dipandang sebagai suatu kelanjutan yang wajar dan logis, dalam perkembangan
kehidupan manusia, yang ditandai oleh kreativitas manusia dalam mencari jalan
mengatasi kesulitan hidupnya di dunia ini, dan harus dipahami pula bahwa
betapa pun kreatifnya manusia di zaman modern, namun kreativitas itu, dalam
perspektif sejarah dunia dan umat manusia secara keseluruhannya masih
merupakan kelanjutan hasil usaha umat manusia sebelumnya.
Kebudayaan adalah hasil dari berpikir dan merasa manusia dalam
menjalani kehidupannya. Wujud budaya tidak bisa lepas dari ruang-waktu,
seiring berjalannya waktu, kebudayaan akan mengalami perubahan, dari
kebudayaan lokal yang sederhana menjadi kebudayaan lokal yang lebih
kompleks mengingat kuatnya pengaruh globalisasi.
Terjadinya globalisasi di era modern menyebabkan adanya unsur
budaya Jawa lokal yang bersifat universal dengan nilai spiritual religius dan
ditemukan di belahan dunia ini. Namun kenyataanya, dalam masyarakat
sekarang ini ada pula adat-adat istiadat jawa yang telah mengalami pergeseran
sehingga di pandang sudah tidak bernilai magis lagi, tetapi bernilai seni.
Misalnya rangkaian upacara dalam perkawinan seperti tarup dan siraman. 6
Dalam konteks kearah modernisasi yang bersifat rasionalistik, materialistik, dan
egaliter yang menjadi tantangan bagi budaya jawa untuk memiliki nilai dan
perwujudan dari sifat pluralistik. Menyesuaikan masyarakat modern, budaya Jawa harus melakukan
reinterpretasi nilai-nilai lama, ajaran Jawa tidak cuman hanya sekedar tekstual
tapi harus sesuai rasionalitas yang dijunjung tinggi di era modern ini. Bukan
hanya pemaknaan kembali ajaran, tapi juga rekonstruksi ajaran yang bersifat
feodal menjadi lebih egaliter, contohnya pemakaian bahasa krama yang
tergantung strata masyarakat, masyarakat modern menginginkan kesetaraan,
tapi harus tetap melestarikan nilai-nilai ajaran Jawa.
Banyaknya permasalahan yang membuat masyarakat Jawa terasa
tergerus oleh modernisasi, seperti :
1. Mentaliter orang Jawa yang terlalu menerima dan bersifat pasif terhadap
hidup.
2. Tekanan penduduk yang telah menyebabkan rakyat pedesaan di Jawa
itu menjadi terlalu miskin.
3. Tidak adanya organisasi-organisasi asli yang telah mantap yang jika di
modernisasi dapat menjadi organisasi masyarakat yang aktif dan kreatif
4. Tidak adanya kepemimpinan desa yang aktif kreatif dapat memimpin
aktivitas produksi yang bisa memberi hasil tiga empat kali lebih dari
pada sekarang tiap-tiap tahun.7
Semua masalah tersebut memang kita dapat mengerti, tetapi sangat
syukur untuk diatasi dalam waktu yang singkat agar tidak terlalu tertinggal oleh
bangsa lain. Rakyat harus digerakkan untuk tetap kreatif dalam menunjukkan
jatidiri jawanya dab pembangunan. Untuk bisa menggerakkan masyarakat
Jawa, diperlukannya pemerintahan yang aktif dalam inovasi inovasi baru yang
sejalan dengan globalisasi.
4. DINAMIKA NILAI ISLAM DAN JAWA DALAM MENGHADAPI MODERNITAS
Dinamika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tenaga yang
menggerakkan, semangat, dan gerak dari dalam.
Jadi, modernisasi islam
adalah gerak islam yang penuh dengan semangat dalam ajaran Islam menuju Islam yang lebih modern. Islam yang menjadi sikap dan pandangan hidup yang
selaras dengan budaya Jawa yang menjadi sikap dan pandangan hidup
masyarakat Jawa. Ajaran Islam yang bersentuhan dengan budaya Jawa akan
melahirkan akulturasi budaya yang menghasilkan budaya Jawa dengan nilai-
nilai Islam yang terkandung di dalamnya.
Modernisasi diartikan sebagai proses perubahan dari kebudayaan
tradisional menjadi kebudayaan yang lebih modern. Dalam proses perubahan
terdapat unsur-unsur yang mudah dirubah dan ada juga unsur-unsur yang sukar
untuk dirubah. Unsur yang sukar dirubah seperti keyakinan agama, adat istiadat,
dan juga sistem nilai budaya. Adapun unsur yang mudah dirubah seperti alat-
alat atau benda hasil dari budaya.
Nilai budaya Jawa Islam akan sulit berubah di masa modern yang
mementingkan rasionalitas, materialistis, dan egaliter karena budaya Jawa
Islam mengandung keyakinan agama dari Islam dan adat istiadat dari Jawa.
Nilai spiritual Jawa yang sinkretis dalam kenyataannya sulit untuk berubah
meski munculnya rasionalisasi, seperti dalam slametan, mitoni, dan sebagainya.
Kehidupan di masa modern ini yang mengedepankan rasionalitas dan
materialis yang kering akan nilai membuat masyarakat kehilangan ketenangan
dan kedamaian batinnya. Maka, kembali pada ajaran agama dan tradisi spiritual
Jawa menjadi solusi agar masyarakat kembali merasa damai, yang
menyebabkan eksistensi budaya Jawa Islam terus eksis hingga saat ini. Tidak
mengherankan jika di era modern ini upacara yang sejak dulu telah mengakar
di masyarakat, yang bersifat religius magis banyak dilakukan lagi, seperti
ruwatan untuk membuang sial.9
Sejumlah permasalahan yang terkait dengan berbagai situasi serta
tuntutan aktual di masa kini, dengan segala dampak positif atau negatifnya,
antara lain:
1. Penyempitan arena penggunaan bahasa Jawa
2. Persaingan dengan sastra Indonesia
3. Perluasan jangkauan pemirsa seni populer, seperti dalam kasus
kethoprak humor, campur sari dan lain sebagainya 4. Advokasi dan daya bertahan wayang
5. Perkembangan seni kontemporer berbasis tradisi seni Jawa yang
kuat.10
Dengan sifat budaya Jawa yang fleksibel, diharapkan nilai Jawa
Islam masih terus bisa bertahan di era modernisasi ini. Globalisasi tidak bisa
melunturkan nilai Jawa Islam, tetapi justru memperkaya budaya Jawa Islam
lewat proses asimilasi ataupun akulturasi.
Komentar
Posting Komentar